Wednesday, May 21, 2008

Gampang ciut

Kalau mau memperhatikan benar-benar, ternyata kita bisa menemukan sedikit demi sedikit diri kita dari kejadian sehari-hari.
Contohnya hari ini.

Dalam perjalanan pulang ke rumah (dari kantor), masih di dalam bis, tiba-tiba handphoneku bunyi. Si Mehmet telpon aku, ada apa ya? (dalam hati).
Begitu kuangkat, langsung deh terdengarlah kata-kata Mehmet di telingaku, kata-kata dengan nada marah!
Kaget. Itu reaksi pertamaku.
Ternyata aku sudah melakukan kesalahan: tidak mendengarkan kata-katanya untuk mengunci pintu belakang kantor.
Sebenarnya bukan karena lupa. Aku ingat kok, tapi begitu mau pulang, aku tanya ke teman kantor yg lain, Alex, dia bilang gak perlu dikunci karena si bos masih di situ (dia pikir si bos punya kunci pintu belakang juga).
Sialnya, ternyata si bos gak punya kunci pintu belakang.
Yah, aku salah deh. Salah karena mendengarkan orang yang salah.
Ini jadi pelajaran juga buat aku, spy hati-hati mendengarkan orang.. jgn main ikut aja, yakin dia benar. Akhirnya aku mesti balik ke kantor lagi cuman buat ngunci pintu belakang.

Gara-gara si Mehmet marah-marah itu, ternyata membuat aku menyadari salah satu sifatku.
Gak tau juga apa namanya, tapi semacam sifat penakut, gampang ciut mungkin lebih tepatnya.
Kalo aku emang salah sih yah gak bakalan aku nantang balik.
Tapi kalo aku gak salah pun sepertinya jarang banget aku bisa berani omong dengan sama kerasnya untuk mempertahankan diri.. :(

Iya, skrg baru sadar, salah satu situasi yg gampang bikin aku ciut itu adalah pada saat aku dimarahin orang lain, dimana orang lain itu marah-marah dengan nada tinggi agak teriak atau bentak2, trus ngomongnya gak bisa disela.
Langsung down. - MENYEBALKAN. -
Tapi untungnya skrg udah berangsur2 membaik responku. Dulu, bisa dimasukin ke hati, sampai nangis-nangis. Sekarang sih paling tinggal gugupnya, tapi dalam itungan menit udah bisa gak dipikirin lagi.. (asal orangnya gak marah2 berkepanjangan tak henti2 ya.)


Jadi inget, pernah sekali-sekalinya nangis di kantor gara-gara dimarahin bos kantor sebelah.. bayangin, bukan bosku yg marahin, tp bos orang! Dan itu pun lewat telpon.. Nangisnya itu reaksi dari rasa sebal yg sesebal-sebalnya, sebal sama si bos itu dan sebal karena aku gak bisa mempertahankan diri sendiri :(


Sampai skrg masih mikir, apa ya kira2 penyebabnya..
Apa karena selama ini aku tumbuh dan dididik di dalam keluarga dengan hampir tanpa kekerasan dan tanpa bentakan?
Kalau aku bandel, si bonyok paling cuman nampol, jewer, atau nutuk/jitak dikit.
Dan hampir gak pernah sampai dibentak-bentak.
Di satu sisi sih baik. Jadi aku gak jd orang yg suka bentak2 orang.
Tapi di sisi lain jgn2 malah bikin aku lembek ya?

Kadang jadi suka iri sama orang yg bisa berantem mulut sama orang. At least dia gak kalah bersilat lidah..
Tapi jgn dikira aku gak bisa marah ya. Sekali bisa marah, biasanya terlihat mengerikan. Ngagetin orang-orang. Tapi itu jarang banget terjadi..

gimana ya caranya belajar spy bisa bicara dgn keras pada saat kita harus bisa bicara dgn keras terhadap orang yg keras? *nah, bingung deh*
Atau yg kyk gini ini emang gak bs diubah ya? apa ini sudah menjadi bagian dari sifat individu yg unik?

~~~
"do you have problem to work on tough environment, which requires you to always stand up for yourself, and not to let yourself being intimidated by other people?", ask the interviewer
"No, not at all.", I said.
*glek. I think I should start to learn martial arts.*
~~~

No comments: