Sunday, August 09, 2009

Tulisan dan Bahasa

Baru aja kelar baca salah satu novel nya Ken Follet, The Hammer of Eden.
Menarik ceritanya. Tentang kelompok hippies yg karena terancam kelangsungan hidupnya lalu memilih untuk mengancam balik pemerintah dengan membuat gempa.
Coba baca deh. Novelnya Ken Follet memang seru2.

Btw ini bukan mau bahas ceritanya. Tapi tentang hal yg lain.
Di novel ini ada cerita tentang FBI dan proses penyelidikan mereka, tentang bagaimana mengenali seseorang lewat suara, tulisan, dan bahasa yg digunakan.

Jadi begini..
di novel itu ada ahli linguistik yg bisa menganalisa orang melalui suaranya. Cewe/cowo (ini sih kyknya jelas ya), umurnya kira2 berapa, background nya (kalangan kelas mana), pendidikan, dll.
Trus di cerita yg lain dia analisa orang melalui tulisannya. Dia bisa tau hal2 kyk gitu juga. Misalnya awalnya asal si orang ini dari kalangan atas, tapi trus dia degradasi ke kalangan bawah. Dan itu keliatan dari tulisan yg dia pakai, campuran antara kalimat2 yg biasa digunakan sama orang berpendidikan tinggi dan org biasa / tidak berpendidikan.

Gara-gara itu, akhirnya gue jadi mengamati tulisan gue sendiri dan orang-orang.
Ternyata byk orang yg kalo dilihat dari cara mereka menulis, sepertinya memang menunjukkan kualitas orang tersebut. Dan cara mereka menulis ya bagus-bagus gitu.. Sedangkan cara menulis gue kok kayaknya ga ada bagus2nya gini.. :(
Akhirnya gue jadi berusaha untuk menulis lebih bener..
Tapi kok kadang jadi terbaca garing.. contohnya kalimat terakhir paragraf pertama.. pake titik doang, kyk datar gmn gitu. hmm..

Bahasa (menulis, membaca dan berbicara) kadang memang tidak mudah buat sebagian orang (gue misalnya). Bahasa ibu sendiri aja kadang suka ngaco, apalagi bahasa ibunya orang lain..
Kadang itu bikin stress juga lho.
Dengerin pake bahasa Jerman, di otak diolah pake bahasa Indonesia, terus ngeluarin pake bahasa Inggris atau Jerman.. halah..

Jadi ngalor ngidul gini.. (seperti biasa)

2 comments:

qonit said...

hmm sbetulnya ini bukan soal bagus/gak orangnya sih.. tapi emang ada hubungannya dgn struktur otak (untuk urusan bahasa) dan budaya / keturunan (untuk urusan tulisan bagus).

org yg susah ngomong, emang dari otaknya kemampuan verbalnya gak tinggi. tapi tentu aja dia punya kemampuan lain. contohnya gw gak selancar adik gw yg cerewet itu.

trus org yg dari kecil terbiasa dalam lingkungan yg saling mengungkapkan pendapat, jadinya juga terbiasa membikin pernyataan, jadi bisa mengolah pikiran ke dalam bentuk tulisan. kalo ini masalahnya knapa anak2 indo yg kuliah di luar negri pada pusing bikin paper, karena gak terbiasa (budaya indo).

jadi di novel itu kali semua yg dianalisis satu budaya :)

cobek said...

ooooo.. gitu ya niet :) gue kok ga kepikir ke situ..