Baru saja berjalan sebentar dalam perjalanan panjang permenungan dan pergumulan diri, ternyata sudah banyak bertemu dengan berbagai pertanyaan yang datang menghadang.
Judul di atas itu hanya salah satunya.
Mungkin gak kita menghilangkan kebutuhan yg melibatkan orang lain?
Tiap orang pasti punya kebutuhan, baik fisik maupun emosional, disadari atau tidak disadari.
Aku ambil 1 contoh, misalnya aku ternyata punya kebutuhan untuk bercerita ke orang lain. Ceritanya bisa apa aja, dari hal-hal kecil gak penting (spt yg sering aku tulis di blog) sampai hal-hal besar yang bikin frustrasi.
Aku baru sadar punya kebutuhan ini setelah umur hampir kepala 3. Bayangin aja, begitu telatnya..
Dan ternyata kebutuhan ini sudah terlihat sejak aku kecil.
Seharusnya aku langsung menyadarinya ketika beberapa tahun yang lalu ibu bercerita tentang suatu kejadian sewaktu aku kecil. Ibu bilang waktu itu aku naik mikrolet bareng ibu dan pas mau turun kepalaku kejedot sampai akhirnya kepalaku benjol gede.
Nah, begitu sampai rumah, ternyata aku malah dengan bangganya bercerita ke semua orang (sampai ke oom tante tetangga rumah) bahwa aku abis kejedot dan kepalaku benjol gede..
Dan ibuku yang menyadari duluan kalo anaknya ini sering suka cerita hal2 yang gak penting ke orang2..
hmm.. sampai sekarang aku masih terus bertanya2, kenapa aku bisa punya kebutuhan itu.
Tapi belum nemu jawabnya. Moga2 tar nemu deh, pingin tau juga soalnya.
Balik ke topik.
Setiap kebutuhan itu pada umumnya (atau hampir selalu?) melibatkan faktor eksternal. Contohnya ya kebutuhan berceritaku itu. Aku butuh orang lain yang mau mendengarkan ceritaku.
Mungkin ada jenis kebutuhan yang bisa dipenuhi dari dalam diri kita sendiri, jadi kita gak butuh orang lain dalam proses pemenuhan kebutuhan itu..
Tapi yang aku tanyakan di atas itu adalah jenis kebutuhan yang selalu melibatkan orang lain. Atau jenis kebutuhan yang membuat kita tergantung kepada orang lain.
Mungkin gak sih membuatnya menjadi suatu kebutuhan yang bisa dipenuhi oleh diri kita sendiri?
Contohnya ya kebutuhan bercerita itu.
Bisa gak ya menghilangkan faktor orang lain di sini?
Kenapa aku pingin seperti itu, karena aku gak pingin sedih dan kecewa kalau kebutuhanku tak terpenuhi oleh orang lain (misalnya, aku mendapati tak seorang pun yang mau mendengarkan aku bercerita, lalu aku merasa sedih dan kecewa).
Aku juga gak pingin hanya terus mencari orang lain yang bisa memenuhi kebutuhanku, dan meninggalkan mereka yang tidak berhasil memenuhi kebutuhanku.. (Soal ini, aku pingin bahas lain kali.. krn ini adalah salah satu lingkaran setan lain yang masih bikin aku terus bertanya2 knp spt itu).
Aku pingin aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain untuk membuat kebutuhanku itu terpenuhi.
Teoriku sih, dengan begitu berarti aku gak akan sedih dan kecewa lagi.
Alasannya sih simpel aja, aku percaya segala sesuatu itu asalnya dari dalam diri kita sendiri kok.
Dan pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya?
Kalau ada yang nemu jawabannya, kasih tau ya.. :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
Nyo ... kalau yg sering terlintas di benak gw, supaya gak kecewa ya jangan berharap ... hihi.. ekstrim sih... efek sampingnya, org yg kaya gini majunya susah ... beneran ...
akhirnya terlalu banyak yg dipikir... mau maju ragu2 ...
ada bagusnya juga ya kaya bule2 yg individu.. kan gak mikirin orang laen .. jd jg gak ada semacam 'ketergantungan' ... hehehe...
tapi namnya jg manusia ... makhluk sosial.. pasti adalah kebutuhan itu
hmm.. bisa juga sih berhenti berharap itu dijadiin solusi. Tapi kok sptnya tidak menyelesaikan permasalahan ya? sepertinya kita hanya menghindari saja (ini yg paling gue gak suka - tdk menyelesaikan masalah, tapi hanya menghindar).
Sedangkan kebutuhan itu sebenarnya tetap ada.
sammaaa.. gw jg punya kebutuhan gitu. cerita2 yg gak penting. sampe dibilang terlalu banyak ngomong. tapi gw begitu krn saking tidak pentingnya. kalo yg penting2 malah susah ngomong, jd pake banyak persiapan dulu sblm memutuskan ngomong. jadi ceritanya bisa ke siapa aja. gak ada orang ya pasang di blog, atau pasang di status ym atau fesbuk, ntar kan ada yg ngomentarin, so itulah si temen bercerita pada saat itu =D
ps: gak perlu berhenti berharap gak ada yg bisa memenuhi kebutuhan kita. tapi lebih baik fokus ke gimana memenuhi kebutuhan org laen, ntar otomatis kok org laen adaaa aja yg memenuhi kebutuhan kita. gak tau deh pengalaman gw begitu..
Post a Comment